SEPULUH HARI TERAKHIR (Kajian Hadits Di Kitab Bulughul Maram)

By admin 04 May 2021, 20:08:21 WIB Artikel Dosen
SEPULUH HARI TERAKHIR  (Kajian Hadits Di Kitab Bulughul Maram)

Ngaji Ramadhan 23:

SEPULUH HARI TERAKHIR

(Kajian Hadits Di Kitab Bulughul Maram)

 Dr. Rahmatullah, M.Pd.I

 

Tidak terasa malam ini sudah memasuki hari ke 23 hari dibulan Ramadhan. Penting untuk mengangkat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah RA yang artinya:

 

582. Dari Aisyah RA, beliau berkata Rasulullah SAW jika memasuki hari kesepuluh (sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan) maka beliau mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan rnalamnya, dan mernbangunkan keluargaryra .(HR. Muttafaq alaih).

 

  DAFTAR DAN KULIAH S2 GRATIS KLIK DISINI

 

Menurut kitab syarah bulughul maram (Taudhihul Ahkam Min Bulungil Maram) dijelaskan bahwa arti kosakata hadits tersebut diantaranya: Mi’zarahu adalah bentuk kinayah dari ketekunan dan kesigapan dalam beribadah. Wa ahya lailalhu mengandung arti pertama Kembali kepada hamba yakni menyibukkan dirinya untuk ibadah daripada tidur, kedua diartikan Kembali kepada malam itu sendiri karena malamnya menjadi posisi siang hari dalam bangun, menghidupkan dengan ketaatan dan beribadah.

 

Disampaikan bahwa terdapat beberapa hal penting dari hadits tersebut, yakni:

  1. Malam-malam kesepuluh yang terakhir dibulan Ramadhan adalah yang paling utama, istimewa dan banyak keutamaan diantaranya lailatul qadr.
  2. Nabi Muhammad SAW sangat memperhatikan malam yang diberkahi dengan i’tikaf di masjid, memisahkan diri dari orang-orang dan istrinya guna mencurahkan ibadah dan menghadap kepada Allah SWT.
  3. Hadits ini sangat menitik beratkan kepada ketaatan di sepuluh malam dan menjauhkan dari setiap hal yang ingin memutuskan ikatan dengan Allah SWT.
  4. Para ulama berbeda pendapat tentang “mengencangkan sarungnya" dengan dua pendapat, yakni pertama bentuk kinayah dari penyegaran untuk beribadah, antusiasme, dan ketekunan dalam beribadah. Kedua bentuk kinayah dari menjauhkan diri dari istri pada sepuluh malam terakhir seperti pendapat Ali RA “maka kencangkanlah kain sarungmu dan menghindarlah dari istri”
  5. Makna dari beliau membangunkan keluarganya di artikan untuk shalat dan beribadah agar mereka tidak ketinggalan memperoleh keutamaan waktu yang diberkahi. Ini adalah kesempurnaan nasihat untuk para kepala rumah tangga mengajak beribadah terutama waktu yang diutamakan.
  6. Sepuluh malam yaitu penutupan bulan,amal-amal perbuatan itu bergantung pada penutupannya, barangkali inilah rahasia kesungguhan dan ketekunan pada sepuluh malam terakhir itu.

 

   KULIAH S1 STAIMA AL-HIKAM

 

Terdapat beberapa faidah dan keistimewaan sepuluh malam terakhir, oleh karenanya (pertama) perlu di perbanyak beribadah kepada Allah SWT misalnya dengan shalah, membaca al-qur’an, sedekah,dzikir dan lain-lain. Kedua, Nabi Muhammad SAW membangunkan keluarganya untuk beribadah kepada Allah. Hal ini menjadi ibrah dan suri tauladan yang sangat penting bahwa keluarga perlu diajak beribadah. Ketiga, Nabi Muhammad SAW beriktikaf pada sepuluh malam terakhir, menikmati kesendirian dengan Allah SWT, bermunajat, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang menyibukkan dari Allah SWT. Keempat, terdapat lailatul qadr pada sepuluh malam terakhir ini, yang sangat jelas keutamaannya karena lebih baik dari seribu bulan.

 

Semoga hadits ini memberikan dorongan dan motivasi kuat kepada kita semua untuk terus beribadah kepada Allah SWT, ibadah dengan arti luas termasuk dengan menjadi seorang pencari ilmu dan penyebar kebaikan. Semoga tambah manfaat dan barakah, aamiin

 

    AKSES YOUTUBE CHANEL PASCASARJANA


Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda