PUASA DALAM TINJAUAN EMPAT MADZHAB

By admin 27 Apr 2021, 20:53:38 WIB Artikel Dosen
PUASA DALAM TINJAUAN EMPAT MADZHAB

Ngaji Ramadhan 16:

 

PUASA DALAM TINJAUAN EMPAT MADZHAB

Dr. Rahmatullah, M.Pd.I

 

Mempelajari tentang puasa memang tidak ada habisnya, puasa dapat dilihat dari beberapa perspektif, seperti yang telah penulis kaji pada beberapa tulisan sebelumnya yang dikutip dari kitab-kitab tafsir. Adapun tulisan ini akan mencoba mengkaji puasa dari kacamata fiqih, sehingga diharapkan para pembaca dapat mengetahui hakikat puasa dari tinjauan empat madzhab.

 

Puasa secara etimologi bermakna menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu, baik menahan diri dari makan, minum, berbicara dan lain sebagainya. Hal ini didasari dari surat Maryam ayat ke 26:

 

فَكُلِى وَٱشْرَبِى وَقَرِّى عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ ٱلْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِىٓ إِنِّى نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ ٱلْيَوْمَ إِنسِيًّا

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".

Adapun makna puasa secara terminology adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan dalam satu hari, sejak fajar hingga terbenamnya matahari serta memenuhi semua syarat-syaratnya. Definisi ini disampaikan dan disepakati oleh madzhab Hanafi dan Hambali. Adapun Madzhab Syafi’i dan Maliki menambahkan kalimat “dengan niat puasa” pada akhir kalimatnya. Meski terdapat perbedaan tersebut, akan tetapi seluruh madzhab sepakat mengharuskan niat puasa. Madzhab Hanafi dan Hambali tidak memasukkan niat dalam rukun puasa tetapi sebagai syarat yang harus dipenuhi.

 

 DAFTAR DAN KULIAH S2 GRATIS KLIK DISINI

 

Jika ditinjau dari hukumnya, Madzhab Maliki, Asy-Syafi’i dan Hambali bersepakat membagi hukum puasa menjadi empat macam: pertama puasa yang diwajibkan yakni puasa Ramadhan, puasa kafarat, dan puasa nadzar. Kedua puasa yang disunnahkan, ketiga puasa yang diharamkan dan keempat puasa yang dimakruhkan. Sedangkan dalam madzhab Hanafi  mengatakan bahwa puasa nadzar diwajibkan bukan difardhukan (hukum diwajibkan pada madzhab ini bermakna sunnah muakkad bagi madzhab lainnya).

 

Terdapat pendapat pertama yang menyatakan bahwa puasa terbagi menjadi delapan yakni:

 

  1. puasa fardhu muayan seperti puasa Ramadhan secara ada’an (tepat waktunya).
  2. Puasa fardhu ghairu muayan seperti puasa Ramadhan yang diqadha (tidak pada bulan Ramadhan), puasa kafarat, yang tidak ada waktu yang tertentu untuk melaksanakannya.
  3. puasa wajib muayan, seperti puasa nadzar yang ditentukan waktunya.
  4. puasa wajib gairu muayan, seperti bemazar untuk melakukan puasa namun tidak ditentukan waktunya, maka puasa itu wajib dilaksanakan namun waktunya tidak ditentukan
  5. puasa nafilah
  6. puasa sunnah
  7. puasa yang dianjurkan
  8. puasa yang dimakruhkan (makruh tanzih maupun tahrim)

 

Info Pendaftaran PMB STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang

 

Adapun pendapat kedua menyatakan bahwa puasa  terbagi menjadi tujuh, yakni:

 

  1. Puasa fardhu muayan, yaitu puasa yang difardhukan pada waktu tertentu, misalnya puasa Ramadhan secara ada'an dan nazar yang ditentukan waktunya.
  2. Puasa fardhu ghairu muayan: yaitu puasa yang difardhukan namun tidak pada waktu tertentu, misalnya puasa Ramadhan secara qadha dan juga nadzar yang tidak ditentukan waktunya.
  3. Puasa waiib, yaitu puasa sunnah yang sudah dimulai pelaksanaannya, misalnya ada seseorang hendak melakukan puasa sunnah di hari Kamis, lalu di pagi harinya dia memulai puasa tersebut, maka dia diwajibkan untuk menyempurnakan puasa itu hingga matahari terbenam. Jika dia berbuka sebelum waktunya maka dia telah melanggar kewajiban, dan harus mengqadha puasanya itu, meskipun puasa itu adalah puasa sunnah. 
  4. puasa yang diharamkan.
  5. puasa yang disunnahkan.
  6. Puasa nafilah.
  7. Puasa yang dimakruhkan.

 

Beberapa hal tersebut di atas penulis sadur dari kitab karya Syaikh Abdurrahman bin iwadh Al-Juzairi yang berjudul al-fiqh al-mazahib al-arba’ah. Beliau lulusan Al-Azhar Mesir dan menjadi guru besar bidang ushuluddin yang menjadi salah satu anggota Hai’ati Kibaril Ulama’.

 

Semoga pembaca terus tertarik dalam mengkaji hasanah ilmu agama Islam, aamiin.

 

 AKSES JUGA YOUTUBE CHANEL KAMI KLIK DISINI


Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda