MATA, PENDENGARAN, DAN HATI

By admin 02 May 2020, 11:10:47 WIB Artikel Ilmiah
MATA, PENDENGARAN, DAN HATI

Ngaji Ramadhan 10:

 

MATA, PENDENGARAN, DAN HATI

Laili Mas’udah, S.PdI

Guru PAI di SMPN 11 Kota Malang

Mahasiswi Pascasarjana STAIMA Al-Hikam Malang

 

Terima kasih Covid-19, karenamu kami sebagai orang tua diingatkan kembali. Sebelum engkau hadir, kami merasa sudah cukup dengan membekali secara dhohir bagi putra-putri kami. Cukup makan, cukup tempat berteduh, cukup antar ke tempat les dan ngaji. Bagi kami, itu semua lebih dari cukup menunjukkan peran sebagai orang tua. Kami pun juga menuntut agar mereka memenuhi kewajiban. Karena kami merasa sudah melaksanakan tugas dengan sangat lengkap dan hampir sempurna. Jadi kami dengan sedikit agak memaksa menyuruh mereka bisa melakukan ini-itu.

Saat ini, kami menyadari betapa peran penting orang tua dalam mengukir sejarah dalam benak dan hati anak. Bukan hanya menyiapkan finansial, waktu dan tenaga. Namun yang lebih penting adalah apa yang diihat, didengar dan dirasakan oleh mereka.

Allah Swt. telah berfirman dalam QS an Nahl : 78, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” Dalam tafsir al-Muyassar dijelaskan, salah satu bukti kebesaran kuasa-Nya, allah mengeluarkan kalian dari rahim ibu kalian dalam keadaan masih bayi yang tidak mengetahui apapun, dan Allah menciptakan bagi kalian alat-alat untuk mendapat ilmu berupa pendengaran, penglihatan dan akal. Hal ini agar kalian bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut dengan perkataan dan perbuatan.

 

Dapatkan subsidi hingga 100juta: https://pasca.staima-alhikam.ac.id/berita-pendaftaran-mahasiswa-baru.html

 

Pertama, mata adalah alat indera yang paling istimewa, karena apa yang dilihat akan langsung dihubungkan ke otak. Selanjutnya otak akan merekam dengan sangat cepat. Kedua,  pendengaran. Ini pun tak kalah penting dibanding mata. Telinga sebagai alat indera untuk mendengar, sangat peka menerima rangsangan untuk segera disimpan dalam memori. Lihatlah anak-anak usia balita yang belum bisa membaca bahkan tak hafal huruf a sampai z sangat  fasih menyanyikan lagu-lagu terkini karena sering mendengar lagu tersebut. Ketiga yang terakhir yaitu apa yang mereka rasakan. Walau tak nampak, tapi hal tersebut nyata adanya. Misalnya, adalah saat mereka menyaksikan pengemis, yang disentuh adalah perasaannya. Apakah mereka kasihan saja atau peduli dengan memberikan sedekah. Contoh yang paling sederhana ialah saat sang ayah atau ibu pulang dari kerja, bagaimana reaksi mereka menyambutnya? Itulah ekspresi dari perasaan.

Bagaimana mengelola tiga poin tersebut agar tetap dalam koridor kebenaran? Allah Swt. dalam QS. al A’raf/ : 179 berfirman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak diperhatikan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi ) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” Na’udzubillah.

Mari dalam moment yang Ramadhan ini, kita berani berubah. Saat dulu sedang sibuk dengan pekerjaan yang sering kita lihat lirik adalah jam, karena banyaknya tugas dan deadline. Gantilah dengan melirik anak-anak kita. Saat dulu kita berjam-jam menatap layar komputer, mari bergeser dengan berjam-jam mengkaji mukjizat terbesar sepanjang zaman, yakni al-Qur’an. Mari kita ajak keluarga kita, bersama tegakkan sholat berjamaah di rumah, perbanyak sholawat, gaungkan gema wahyu Illahi, ramaikan dengan diskusi tentang kebesaran Allah yang Maha Kuasa.

Berilah contoh bagaimana mengisi hari saat Ramadhan dengan rutinitas ibadah pagi hingga petang. Itu yang akan terlihat di mata anak kita, dan direkam olehnya. Mari kita perdengarkan tilawah, sholawat dan nasehat-nasehat kebaikan dari mulut kita khusus untuk mereka. Itu yang akan diingat. Ayuk ajak mereka lebih mencintai Allah dan rasulnya dengan menceritakan kisah nabi dan sahabat yang inspiratif, membaca buku-buku tentang alam semesta agar mereka mengetahui begitu hebatnya Allah, dan masih banyak hal yang dapat dilakukan bersama mereka.

Semoga Allah senantiasa memberi kita semangat dan tambahan ilmu agar dapat menularkan hal positif bagi buah hati kita kelak. Mereka mengingat kita, karena kebersamaan dan pengalaman yang dilalui bersama dalam lingkaran kebenaran dan kebahagiaan. Agar putra-putri kita dapat melihat dengan mata iman, mendengar dengan ihsan dan merasakan dengan ketaqwaan.


Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda