Hikmah Perjalanan Hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah

By admin 20 Apr 2021, 14:27:52 WIB Artikel Dosen
Hikmah Perjalanan Hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah

Ngaji Ramadhan 8:

Hikmah Perjalanan Hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah

Oleh: Abd. Azis Tata Pangarsa

(Dosen STAI Ma'had Aly Al-Hikam Malang)

 

 

Allah SWT dalam al-Qur’an surat al-Anfal ayat 72 berfirman;

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَواْ وَّنَصَرُوٓاْ أُوْلَٰٓئِكَ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ

 

Yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu lindung-melindungi”.

 

Saat ini, sebagian dari kita mungkin ketika mendengar kata hijrah atau peristiwa hijrah Nabi Muhamad SAW dari Mekah ke Madinah, menganggapnya sebagai suatu perpindahan biasa, layaknya migrasi penduduk dari suatu tempat ke tempat yang lain, karena di tempat yang sebelumnya tidak nyaman. Namun hijrah Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya adalah bentuk perlawanan terhadap kaum musyrikin Mekah bahkan Jazirah Arab secara umum. Kehilangan nyawa sebuah resiko yang begitu terpapar di depan mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

 DAFTAR DAN KULIAH S2 GRATIS KLIK DISINI

Hijrah bukanlah melarikan diri dari musuh. Hijrah adalah persiapan membekali diri untuk kehidupan akhirat. Karena itulah, Allah Ta’ala berfirman;

 

وَٱلَّذِينَ هَاجَرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ قُتِلُوٓاْ أَوۡ مَاتُواْ لَيَرۡزُقَنَّهُمُ ٱللَّهُ رِزۡقًا حَسَنٗاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهُوَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ لَيُدۡخِلَنَّهُم مُّدۡخَلٗا يَرۡضَوۡنَهُۥۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَعَلِيمٌ حَلِيمٞ   

 

Artinya: “Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Hajj: 58-59).

 

Ditambah lagi, Nabi Muhammad SAW barulah berhijrah tatkala semua sahabatnya telah berangkat menuju Madinah. Hal ini semakin menguatkan bahwa hijrah bukanlah bentuk melarikan diri. Nabi Muhammad SAW jauh lebih mementingkan keselamatan dan keamanan umatnya dibanding keselamatan dirinya. Inilah jiwa seorang pemimpin. Seorang nahkoda bukanlah orang yang pertama meninggalkan kapal saat ia akan karam. Ia akan menjadi yang terakhir keluar setelah memastikan awak dan penumpangnya selamat terlebih dahulu. Tidaklah tersisa di Mekah kecuali Rasulullah, Abu Bakar, dan Ali bin Abi Thalib sebagai orang-orang yang paling akhir menempuh perjalanan.

 

Nabi Muhammad SAW yang meninggalkan kota Mekah bersama sahabatnya Abu Bakar, sebelum masuk ke kota Madinah terlebih dahulu bersembunyi di Gua Tsur karena beberapa pemuda Quraisy yang sedang melakukan pengejaran hampir saja menangkap mereka. Dalam keadaan sedih dalam persembunyiannya di dalam Gua Tsur yang sempit, Abu Bakar  berkata kepada  Rasulullah SAW, “Wahai Rasul, seandainya salah seorang diantara mereka menemukan kita, maka habislah kita. Jika aku mati, apalah diriku. Namun bila engkau yang mati, wahai Rasul, maka tamatlah riwayat dakwahmu”.

 

Rasulullah SAW menjawabnya dengan bertanya, “Apa yang ada di benakmu jika berduanya kita disini juga ada Allah yang ketiga diantara kita?” Maka turunlah firman Allah seperti yang disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 40:

 

لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ

Artinya: “....Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita”.

   Klik disini Follow Akun Instagram kami dan dapatkan buku

Ada beberapa hal yang bisa dicermati dari peristiwa hijrah:

 

Pertama, hijrahnya umat Islam secara menyeluruh terjadi setelah pintu dakwah sudah tertutup di Mekah. Hijrah ke Madinah bukanlah hijrah yang pertama dialami umat Islam. Sebelumnya sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menempuh dua kali hijrah ke negeri Habasyah. Kesempatan untuk berdakwah di Mekah begitu kecil atau bahkan tertutup. Mengapa tertutup? Karena orang-orang kafir Quraisy berencana untuk membunuh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafatnya paman beliau, Abu Thalib, tiga tahun sebelum hijrah. Saat itulah, strategi hijrah mulai disusun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Sejak mulai, dakwah di Mekah memang sudah sulit. Namun Allah Ta’ala tidak memerintahkan Rasul-Nya untuk berhijrah. Hingga akhirnya pintu tersebut mulai dirasa begitu rapat, barulah Allah perintahkan Rasul-Nya dan umat Islam untuk berhijrah. Dari sini kita bisa mengambil pelajaran yang begitu mendalam, ketika pintu dakwah masih terbuka walaupun dirasa sulit, maka kita hendaknya berusaha mengajak orang-orang kepada kebenaran.

 

Kedua, saat seluruh umat Islam melakukan hijrah, maka Madinah yang dipilih menjadi tujuan bukan Habasyah. Kota tujuan hijrah bisa saja bukan Kota Madinah jika Bani Syaiban atau Bani Hanifah atau Bani Amir beriman. Namun Allah Ta’ala menginginkan Madinah seabgai tempat hijrah Nabi-Nya. Kultur masyarakat Madinah yang merupakan bangsa Arab, tidak jauh berbeda dengan masyarakat Mekah sehingga para sahabat tidak begitu kesulitan untuk beradaptasi.

 

Jaminan keamanan di Madinah pun lebih besar dibandingkan di Habasyah. Di Habasyah, hanya An-Najasyi yang beriman, jika ia wafat, maka keselamatan kaum muslimin kembali terancam. Selain itu, terbentuknya negara Islam lebih besar peluangnya di Madinah dibanding Habasyah.

  AKSES JUGA YOUTUBE CHANEL KAMI KLIK DISINI

Ketiga, umat Islam diperintahkan menuju tempat yang sama untuk berhijrah. Dalam syariat hijrah kali ini. Komunitas umat Islam Mekah diperintahkan menuju daerah yang satu bukan dibebaskan menuju daerah manapun yang mereka inginkan. Banyak sekali faidah dari hal ini. Di antaranya kebersamaan dan kekeluargaan tetap terjaga. Keselamatan lebih terpelihara dibandingkan satu orang menuju satu negeri lainnya. Lebih mudah beradaptasi. Keimanan juga terjaga dengan berkumpulnya mereka dengan orang-orang beriman lainnya. Dan lain-lain.

 

Inilah hakikat hijrah yang sebenarnya yang dapat kita ambil hikmahnya bahwasanya ketika kita melakukan hijrah menuju kebaikan dengan niat ibadah mentaati perintah Allah SWT tentunya akan membawa pada kesuksesan luar biasa karena Allah Yang Maha Kuasa tidak akan segan-segan membantu semua hamba-hamba-Nya yang berhijrah menuju kepada kebaikan. Tidak hanya itu, Allah akan memberikan jalan-jalan-Nya, yakni jalan-jalan yang luar biasa yang tidak akan bisa dicari kalau hanya mengandalkan kemampuan manusia semata. Wallohua’alam.


Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda