Visi Pendidikan Islam Yang Efektif

By admin 18 Apr 2021, 14:14:14 WIB Artikel Dosen
Visi Pendidikan Islam Yang Efektif

Ngaji Ramadhan 7:

Visi Pendidikan Islam Yang Efektif

Handoko Ja’far

Kandidat Doktor Linguistik Terapan Bahasa Arab

Dosen STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang

 

Di dalam mukadimah artikel berjudul A Vision of Effective Islamic Education, Dawud Tauhidi mengajukan kegelisahan akademiknya berupa pertanyaan, “Apa yang keliru dengan pendidikan Islam?” Sebuah pertanyaan yang berlatar belakang ketidakselarasan  kehidupan umat Islam sekarang dengan prinsip-prinsip Islam dan nilai-nilai keyakinan. Lebih lanjut ia memandang, akhir-akhir ini Islam diajarkan sebatas sebagai informasi dan bukan pengalaman-pengalaman. Bagi kebanyakan peserta didik, Islam tidak memberi inspirasi serta nampak kurang berarti dan tidak relevan dengan kehidupan pribadi dan pengalaman-pengalaman mereka.

 

Pendidikan Islam pada kondisi teks kekinian memerlukan pemikiran- pemikiran baru. Sebuah visi pendidikan Islam yang efektif ditawarkan oleh Dawud Tauhidi, rasa-rasanya perlu untuk ditelaah lalu dianalisis sejauh mana efektivitas visi pendidikan Islam berdampak pada anak didik.

    DAFTAR DAN KULIAH S2 GRATIS KLIK DISINI

Adanya pengaruh kuat paham matrealis sekular dan sistem nilainya menjadi tantangan tersendiri bagi baik individu maupun komunitas keagamaan. Tauhidi memandang hal demikian tergantung pada bagaimana kita mendidik dan bergantung pada keberhasilan kita dalam mentransformasikan visi suci ataupun pandangan hidup umat Islam. Ia menekankan pentingnya keberlangsungan spiritual serta moral anak didik dan masyarakat Muslim. Tidak bisa dipungkiri, paham materialis sekular berdampak kuat pada kehidupan umat Islam. Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa Islam tidak menampik dunia materi bahkan memberi porsi tersendiri, menjadikan materi sebagai alat interaksi sosial, mengejewantahkan ajaran Islam lewat cara berbagi materi dan menjadikan pencapaian materi yang manusiawi sebagai bentuk lain peribadatan.

 

Materi merupakan aspek untuk bertahan hidup paling nyata saat ini, terlepas dari paham materialis sekular, kecenderungan seseorang meski ia seorang Muslim untuk mendapatkan banyak materi selalu ada. Hal demikian sesuai dengan aspek biologis yang merupakan aspek orisinil. Sebuah aspek yang menurut Sigmund Freud berfungsi dengan berpegang pada prinsip “kenikmatan”, yaitu mencari keenakan dan menghindarkan diri dari ketidak-enakan. Saat ini pun, sebagaimana orientasi pendidikan ala Ibn Khaldun, materi ditempatkan sebagai tujuan pertama pendidikan dengan bahasa peningkatan kualitas hidup menggantikan tujuan semula pendidikan Islam yaitu terbentuknya manusia yang bertaqwa, berkepribadian Muslim, menjadi insan kamil, ulul albab atau yang lainnya, sebab pada akhirnya tujuan-tujuan mulia itupun akan berhenti pada satu titik penting; materi sebagai tujuan sekaligus nyawa pendidikan.

Tauhidi menyadari pengaruh kuat paham materialis sekular yang berdampak pada pemarjinalan nilai-nilai ajaran Islam. Kegelisahan yang sama, banyak dialami pemerhati maupun praktisi pendidikan Islam. Banyak upaya yang telah dilakukan, seperti Islamisasi (al-Attas), naturalisasi (al-Ghazali), internalisasi (SH. Nasser), Easternisasi (dalam pandangan Bassam Tibi) sampai De-Westernisasi (menurut Adnin Armas) selalu menggusung dikotomi-independensi Barat-Timur: Sains-Agama yang pasti berakhir pada konflik berkepanjangan yang tidak berkesudahan. Belum ada upaya memberi ruang pengakomodiran sebagaimana anjuran Emmanuel Kant untuk menuju integralistik-holistik Barat-Timur. Mengacu pada pengalaman dari para pendahulunya, Tauhidi menyajikan pengulangan gagasan pendidikan Islam yang efektif, mengena di kehidupan nyata, tidak di awang-awang tapi landing sesuai dengan kebutuhan dan sejalan dengan minat peserta didik melalui pemahaman Islam yang tepat serta aplikatif (being Muslim).

 

Dengan tanpa pemahaman yang tepat akan sistem nilai Islam, ia meyakini bahwa tujuan (maqasid) pendidikan Islam akan sulit dicapai. Pada dasarnya, pendidikan Islam memiliki peranan penting dalam memberikan solusi konkrit serta program-program yang akan membantu pemahamam bagi peserta didik, juga dalam meningkatkan peranan dan tanggung jawab keluarga terhadap proses pendidikan.

  Klik disini Follow Akun Instagram kami dan dapatkan buku

Merespon wacana pembaruan ini, banyak yang berusaha keras untuk menemukan solusi riil dalam menghadapi permasalahan dan tantangannya, termasuk mengkaji ulang konsep how dan what yang telah diterapkan dalam pengajaran tentang Islam. Premis mendasar adalah bagaimana pendidik Muslim membangun kembali kurikulum kajian Islam-apa yang musti diajarkan dan bagaimana ia diajarkan-bila direlevansikan dengan daya tahan (the spiritual survival skill) sebagai Muslim yang hidup di abad 21.

 

Tauhidi menggaris bawahi visi baru pendidikan Islam yang mampu mencetak generasi Muslim yang mempunyai tingkatan pemahaman, komitmen dan tanggung jawab sosial, yang mampu menyajikan Islam dan kemanusiaan secara efektif. Menurutnya, Pendidikan Islam harus bisa mencetak lulusan yang mampu mengenali, memahami lalu kemudian bisa bekerja sama menyelesaikan permasalahan-permasalahan terkait erat dengan kehidupan yang telah diamanatkan. Permasalahannya adalah visi pengajaran yakni Islam sebagai materi ajar yang dengan sendirinya diharapkan berpengaruh dan mempunyai dampak positif terhadap perilaku-perilaku, tapi pada kenyataannya masih dibutuhkan proses penjadian perilaku-perilaku itu sendiri. Solusinya adalah bahwa tarbiyah wa ta’lim perlu diikuti dengan ta’dib.

 

Pada kenyataannya, visi ini bukanlah hal yang baru, lebih tepat jika dikatakan sebagai pembaruan pandangan atau visi pendidikan Islam. Seperti kembali ke visi pendidikan klasik meski tidak tradisional ataupun konvensional jika merujuk ulang ke model pendidikan zaman Nabi, yakni mencakup praktik dan relevansi. Sebuah model pendidikan yang menekankan substansi pendidikan dan relevansinya berupa pengalaman-pengalaman keseharian dan permasalahan di awal Islam. Meskipun kandungan pendidikan Islam tidak diperdebatkan lagi disiplin ilmu yang mendasarinya seperti aqidah, tafsir, fiqh dan yang lainnya, tetapi proses pelaksanaannya musti dilakukan secara alami dan sejalan dengan minat peserta didik yang berkait erat dengan isu-isu yang muncul di konteks terkini pendidikan.

 

Perbedaan mendasar visi pendidikan Islam ditawarkan Dawud Tauhidi adalah pengajaran tentang Islam dan pengajaran bagaimana menjadi seorang Muslim. Tauhidi menegaskan bahwasanya pendidik Muslim dalam banyak hal lebih mengajarkan fakta-fakta tentang Islam dan belum menemukan pengembangan sebuah program yang sistimatis untuk mengajar tentang menjadi seorang Muslim secara alami.

 

Pendidik Muslim harus menjadi lebih sadar akan peranan penting faktor-faktor yang berperan dalam pembelajaran yang efektif, yaitu bermakna (meaningful), integral (integrative), bernilai dasar (value-based), menantang (challenging) serta aktif (active). Pendidik Muslim harus menyadari bahwa tiap aspek dari pengalaman belajar mengajar benar-benar membawa nilai-nilai pada siswa dan memberi kesempatan bagi mereka untuk belajar tentang nilai. Oleh karena itu, pendidik harus meningkatkan kesadaran akan nilai/martabatnya serta bagaimana nilai-nilai tersebut mempengaruhi perilaku sebagai model peranan dan apa yang siswa pelajari dari pengalaman mereka sendiri, orang lain dan terkait dengan Islam.

 

Pengajar di pendidikan Islam bisa dibilang efektif kalau mempersiapkan diri dengan peningkatan pengetahuan dasarnya secara berkelanjutan, membetulkan tujuan dan kandungan pada kebutuhan siswa, mengambil manfaat dari kejadian yang terbentang dari momentum pengajaran serta mengembangkan percontohan yang secara langsung berhubungan dengan anak didik. Lebih lanjut, pembelajaran harus menjadi lebih aktif dengan menekankan aktifitas gerak tangan dan pikiran hand-on dan mind-on yang mengajak peserta didik bereaksi pada apa yang mereka pelajari serta menggunakannya di dalam kehidupan mereka yang berarti.

 

Faktor-faktor kunci yang diketengahkan Tauhidi diatas merupakan gambaran visi yang jelas yang berdasarkan dinamika pandangan Islam dan pendidikan Islam. Sebuah pandangan yang berakar pada misi Islam yang membawa dampak positif sedangkan tujuan pendidikan adalah menyiapkan generasi muda yang mampu membawa misi suci tersebut secara emosional, moral dan intelektual.

 AKSES JUGA YOUTUBE CHANEL KAMI KLIK DISINI

At-tharīqatu ahammu min al-madda wa al-ustādzu ahammu min al-tharīqah, bahwa cara atau metode itu mempunyai peranan yang lebih penting

Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda