PUASA DALAM TAFSIR MUNIR.

By admin 26 Apr 2021, 20:00:35 WIB Artikel Dosen
PUASA DALAM TAFSIR MUNIR.

Ngaji Ramadhan 15:

PUASA DALAM TAFSIR MUNIR.

Dr. Rahmatullah, M.Pd.I

 

Setelah penulis membaca dan menelaah tentang ayat puasa surat al-baqarah ayat 183-185, bahkan penulis juga telah menjelaskan makna ayat tersebut dalam tiga kitab tafsir karya ulama Indonesia dalam bentuk video yang diunggah di youtube chanel Pascasarjana STAIMA Al-Hikam Malang (klik disini untuk lihat videonya). Penulis masih terus mencari makna ayat tersebut dari kitab tafsir Munir karya Prof. Dr. Wahbah Zuhaily.

 

Menurut tafsir ini, terdapat beberapa hikmah dan manfaat yang bisa dipetik dari puasa. Puasa dapat mendidik jiwa untuk bertakwa kepada Allah SWT, serta mengandung beberapa hal sebagai berikut:

 

Pertama, Puasa mampu menjadikan jiwa manusia memiliki rasa takut kepada Allah SWT baik dalam keadaan sepi maupun dalam keadaan ramai. Tidak ada yang mampu mengawasi manusia melaksanakan puasa kecuali Allah SWT. Jika terdapat godaan misalnya aroma makanan yang lezat, melihat air yang jernih dan menyegarkan ketika dalam keadaan haus dan lapar, akan tetapi karena dorongan iman dan takwa maka manusia tersebut tidak membatalkan puasanya, ini menjadi bukti bahwa ia tidak menuruti hawa nafsunya, tapi karena takut kepada Allah SWT.

 

Kedua, Puasa mampu meredakan syahwat dan mengurangi pengaruh dan kendalinya. Dengan berpuasa maka manusia akan kembali dalam keadaan normal dan tenang. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi, bahwa puasa adalah pelindung, puasa juga fainna lahu wija’un (puasa itu meredakan syahwat).  

 

Ketiga, Puasa memberikan dorongan kepada manusia untuk memberi, memunculkan perasaan yang peka. Ketika seseorang lapar, maka ia akan teringat dengan orang-orang yang sengsara dan tidak punya makanan, sehingga puasa mampu mendorong untuk saling tolong menolong.

 

Keempat, puasa dapat menjadi sarana untuk merealisasikan persamaan antara si kaya dan si miskin, antara orang terpandang dan rakyat biasa, karena bentuk kewajiban dan pelaksanaan ibadahnya sama.

 

Kelima, puasa membiasakan disiplin dalam kehidupan, pengekangan kehendak dari waktu sahur hingga waktu buka.

 

Keenam, puasa dapat memperbarui struktur fisik, menguatkan kesehatan, menguatkan pikiran, seperti hadits Nabi shuumuu tashihhuu (berpuasalah, niscaya kalian akan sehat).

 

Setelah mengetahui hal tersebut diatas, penulis ingin melanjutkan dengan kajian syaikh Wahbah Zuhaily pada ayat ke 187, yang menunjukkan beberapa hal berikut:

 

  1. Diperbolehkannya jima’ pada malam hari dan keharaman di siang hari.
  2. Diwajibkannya menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
  3. Jumhur ulama mengangap sah puasa orang yang masih junub ketika fajar terbit.
  4. Apabila wanita haid sudah suci sebelum fajar terbit dan ia tidak mandi hingga pagi, maka ia wajib berpuasa dan puasanya sah.
  5. Bekam tidak membatalkan puasa.
  6. Jika seseorang menyangka matahari telah terbenam karena mendung atau yang lainnya kemudian dia berbuka, akan tetapi matahari muncul kembali maka ia harus mengqadha’.
  7. Dilarang melakukan puasa wishal, malam merupakan batas akhir untuk ber-puasa.
  8. Disunnahkan berbuka puasa dengan beberapa kurma segar atau kurma kering atau beberapa teguk air putih.
  9. Disunnahkan puasa enam hari dibulan syawwal.
  10. Disunnahkan beriktikaf dimasjid
  11. Jima’ membatalkan iktikaf
  12. Wajib mentaati semua hukum-hukum Allah.

 

 Semoga bermanfaat, aamiin

 

 DAFTAR DAN KULIAH S2 GRATIS KLIK DISINI

 Klik disini Follow Akun Instagram kami

 AKSES JUGA YOUTUBE CHANEL KAMI KLIK DISINI


Video Terkait:


Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda