PUASA DALAM KITAB AL-UM

By admin 03 May 2021, 20:33:19 WIB Artikel Dosen
PUASA DALAM KITAB AL-UM

Ngaji Ramadhan 22:

 

PUASA DALAM KITAB AL-UM

Dr. Rahmatullah, M.Pd.I

 

Pembahasan puasa dari segi fiqh empat madzhab pernah penulis singgung pada pembahasan sebelumnya (lihat: puasa dalam tinjauan 4 madzhab), saat ini penulis akan meringkas beberapa pembahasan puasa menurut kitab al-Um. Kitab yang dikarang oleh Imam Syafi’i ini patut untuk diangkat, mengingat Imam Syafi’i merupakan tokoh yang banyak dikutip pendapatnya khususnya bagi muslim Indonesia.

 

Termuat dalam kitab al-Um lil Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i yang penulis ambil dari Jus tiga tentang kitabus siyam as-shaghir (pembahasan kecil tentang puasa), terdapat beberapa bab yang membicarakan yakni:

  1. Bab kewajiban puasa,
  2. memasuki puasa dan perbedaan pendapatnya,
  3. puasa Ramadhan,
  4. hal-hal yang membatalkan puasa dan perbedaan pendapatnya,
  5. bersetubuh (jima’) dibulan Ramadhan dan perbedaannya,
  6. puasa Tathawwu’ (sunnah),
  7. dan bab tentang hukum-hukum orang yang membatalkan puasa Ramadhan.

Menurut penulis, berikut beberapa hal penting pembahasan dalam kitab al-Um yang harus diketahui oleh para pembaca:

  DAFTAR DAN KULIAH S2 GRATIS KLIK DISINI

Pada bab pertama kewajiban puasa dibuka dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar yang artinya:

"sebulan itu dua puluh sembilan hari. Janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihat bulan sabit, dan janganlah kalian berbuka (berhenti puasa) sebelum kalian melihahya. Apabila kalian tertutup mendung, maka genapkanlah bilangannya meniadi tiga puluh hari.”

Dilanjutkan dengan pendapat Ali bin Abi Thalib yang mengatakan “ Berpuasa sehari di bulan Sya’ban itu lebih kusenangi daripada tidak berpuasa sehari dari bulan Ramadhan. Kemudian Asy-Syafi’i berkata “kesaksian atas bulan sabit bulan Ramadhan tidak boleh kecuali oleh dua orang saksi.

Pada bab kedua memasuki puasa dan perbedaan pendapat tentangnya diawali dengan pentingnya niat puasa karena puasa Ramadhan tidak sah kecuali dengan niat. Hal ini khusus bagi puasa Ramadhan dan puasa Nadzar, Adapun puasa sunnah tidak ada larangan berniat puasa sebelum matahari tergelincir selama belum makan dan minum.

Pada bab hal-hal yang membatalkan puasa dan perbedaan pendapat di dalamnya dijelaskan tentang haramnya makan sampai terbenamnya matahari (waktu maghrib). Jika seseorang makan dan minum diantara waktu sahur dan berbuka maka wajib mengqadha puasanya. Lebih lanjut Imam Syafi’i berpendapat bahwa makanan di sela-sela gigi membatalkan puasa apabila bisa dikeluarkan dan seseorang dimakruhkan untuk menunda buka puasa dengan sengaja. Muntah dengan sengaja maka wajib mengqada’, kalau tidak sengaja maka tidak wajib.

   KULIAH S1 STAIMA AL-HIKAM

Pada bab jima’ dibulan Ramadhan dan perbedaan pendapatnya disampaikan hadits tentang seorang badui yang bersetubuh dengan istrinya, kemudian Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk memerdekan budak, atau berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin. Hingga akhirnya Nabi memberinya kurma dan bersabda ambillah ini, lalu sedekahkan ia. Orang itu ber Orang ifu berkata, "Ya Rasulullah, aku tidak menemukan orang yang lebih membutuhkan daripada aku." Rasulullah tertawa hingga tampak gigi-gigi taring beliau, kemudian beliau berkata: “Makanlah ini”

Terdapat banyak pembahasan tentang bab ini khusunya tentang kaffarat dan Hadd, sehingga sangat penting diketahui bahwa berjima’ disiang hari pada bulan Ramadhan sangat dilarang.

 

Pada bab puasa tathawwu’ (sunnah) disampaikan hadits dari Aisyah, beliau berkata: Aku menemui Rasulullah dan berkata: aku menyimpan hais untukmu. belian bersabda: sesungguhnya aku ingin berpuasa, tapu bawalah kemari hais itu.

 

Pada bab hukum orang yang membatalkan puasa Ramadhan disampaikan tentang apabila membatalkan puasa karena udzur sakit atau bepergian maka dia boleh mengqada’nya kapan saja hingga datang Ramadhan yang lain, baik terpisah-pisah atau beruntun. Terdapat hadits yang menyatakan bahwa: "Apabila kamu telah menghitung bilangannya (puasa yang kamu tinggalkan), maka kerjakanlah puasa-puasa tersebut, dengan cara apa pun yang kamu inginkan."

 

Kitab al-Um sangat menarik untuk dikaji khususnya bagi para pencari ilmu agama Islam, karena menurut penulis, kitab ini tidak hanya membahas fiqih saja tetapi juga membahas ushul fiqih.

    AKSES YOUTUBE CHANEL PASCASARJANA

Semoga kita mendapatkan manfaat dan ketambahan barakah dengan mempelajari beberapa kitab karangan ulama dibulan suci Ramadhan ini, aamiin


Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda