ORANG BERPUASA TIDAK MENDAPAKAN PAHALA

By admin 25 Apr 2021, 17:18:36 WIB Artikel Dosen
ORANG BERPUASA TIDAK MENDAPAKAN PAHALA

Ngaji Ramadhan 14:

ORANG BERPUASA TIDAK MENDAPAKAN PAHALA

 

Didalam sejarah Islam ada beberapa bulan yang di anggap penting dan istimewa oleh ummat Islam diseluruh dunia, salah satunya adalah bulan Ramadhan. Salah satu keistimewaan dari bulan Ramadhan di lihat dari kajian historisnya adalah dimana pada bulan tersebut diturunkannya kitab suci al-Qur’an, sebagaimana yang dijelaskan dalam surah al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

bulan ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi ummat manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan menjadi pembeda (antara yang benar dan yang bathil)

Disamping itu, keistimewaan bulan ramadhan juga dikarekan pada bulan itu diyakini oleh ummat islam Allah menurunkan Rahmat dan berkahnya sehingga segala amal baik akan dilipat gandakan oleh Allah pahalanya, bahkan Allah akan memberikan anugerah pengampunan tanpa batas bagi muslim yang melaksanakan ibadah puasa yaitu pengampunan atas dosa yang telah dilakukan atau yang akan dilakukan, sebagaimana hadist riwayat Imam Bukhori:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

barang siapa yang berpusa di bulan ramadhan didasari dengan keimanan dan hanya mengharap ridha Allah, maka akan diampuni dosadosanya yang talah lalu

Hal inilah yang memotivasi ummat islam berlomba – lomba dalam melaksanakan ibadah puasa meskipun mereka harus merasakan lapar dan dahaga. Namun pertanyaanya sekarang adalah, apakah memang benar bahwa puasa hanya menahan lapar dan dahaga saja?

Mayoritas ummat islam menafsirkan ibadah puasa dengan tafsiran yang sangat sederhana, yaitu mengartikan ibadah puasa hanya sekedar untuk menahan lapar dan dahaga saja, dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, padahal menurut Rasulullah dalam hadist riwayat Imam Ahmad menjelaskan:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya rasa lapar

Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa berpuasa bukan hanya sekedar tidak makan dan minum saja. Sehingga dari hadis ini bisa kita katakan masih banyak ummat islam yang berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala dari puasanya.

Selanjutnya, apa saja yang menyebabkan puasa kita tidak mendapatkan pahala dari Allah dan kenapa kita hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja. Dalam hadist riwayat Ibnu majjah dan Imam Hakim Rasullah bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

puasa itu bukan hanya sekedar tidak makan dan minum, namun, puasa itu adalah menahan diri untuk tidak melakuakan yang siasia dan rafats, jika ada seseorang mengejekmu maka katakanlah pada orang itu sesungguhnya aku berpuasa

Jadi menurut hadist diatas ada dua hal yang menyebabkan seseorang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala dari Allah, yaitu:

  1. Al-Laghwu. Al-Laghwu adalah melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya bagi dirinya sendiri atau orang lain.
  2. Al-Rafast. Adalah mengeluarkan perkataan yang tidak baik, tidak senonoh, bahkan kalimatnya mengandung bahsa porno dan lain sebagainya. Menurut Ibnu Abbas dalam menafsirkan surah al-Baqarah ayat 197 yang dimaksud rafast adalah:

الرَّفَثُ : الْجِمَاعُ , وَالْفُسُوقُ : السِّبَابُ ، وَالْجِدَالُ : أَنْ تُمَارِيَ صَاحِبَك حَتَّى تُغْضِبَهُ

al-Rafast adalah jima’, fusuq adalah menghina, dan jidal adalah mendebat temannya tanpa alasan yang jelas

Sementara Imam al-Tabhary dalam kitab jami’ul bayan fi ta’wilil Qur’an menjelaskan bahwsannya kata rafast adalah mengeluarkan perkataan yang sembarangan dan menjurus pada kalimat-kalimat yang bisa menggairahkan syahwat bagi pendengarnya.

Dari sini dapat kita simpulakan bahwasannya esensi dari ibadah puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga semata, melainkan juga harus meninggalkan hal-hal yang tidak ada manffaatnya baik bagi dirinya atau orang lain, apalagi melakukan hal-hal yang mendatangkan dampak negatif bagi orang lain.


Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda