KESADARAN EKONOMI SYA’RIAH DI BULAN RAMADHAN

By admin 05 May 2020, 13:30:44 WIB Artikel Dosen
KESADARAN  EKONOMI SYA’RIAH DI BULAN RAMADHAN

Ngaji Ramadhan 13

KESADARAN  EKONOMI SYA’RIAH DI BULAN RAMADHAN

Oleh : Jodang Setia Adi Anista.R.M.E

Dosen STAIMA Al-Hikam Malang

 

Bulan Ramadhan adalah bulan suci yang sangat kita hargai, segala aktivitas umat Islam yang baik  dalam bulan Ramadhan akan bernilai ibadah dan berpahala, kedatangan bulan suci ini sebagai momentum kita menjadi umat yang benar-benar bertaqwa Q.S. Al. Baqarah: 183.

Bertaqwa bukan saja orang yang ahli dalam beribadah, banyak profesi yang dimiliki umat Islam semua harus dijalankan dengan landasan taqwa ke pada Allah SWT. Kita harus menyadari dalam dimensi apapun kita wajib menjalankan perintah taqwa tersebut dan dalam bentuk profesi kerja apapun.

Ekonomi Islam mengajarakan kita sebagai umat islam yang menjalankan muamalah yang sesuai dengan ajaran-ajaran  Islam agar kita menjadi umat yang tidak bertaqwa dalam ibadah saja, akan tetapi dalam jual beli sebagai pelaku ekonomi menjadi taqwa dalam bidang muamalah.

Masuknya ekonomi  syariah di Indonesia dalah sebagai solusi keadailan dalam praktik perekonomian bangsa akhirnya muncullah perbankan syariah, lembaga-lembaga keuangan syaraiah yang sudah mulai banyak di negara Indonesia, konsep ekonomi konvensional akan berdampak pada kesenjangan.

Lahirnya ekonomi islam menjadikan keadilan dan kemakmuran, karena ekonomi islam memilki konsep yang bertuajuan untuk pemerataan dengan berlandaskan taqwa dan tolong menolong, disinlah konsep penindasan akan mulai terkikis dengan praktik ekonomi Islam, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Q.S.A. Maidah :2)

 

Disinilah tujuan ekonomi Islam akan terlaksana dengan konsep pemerataan, sebab hanya dalam konsep ekonomi Islamlah segala muamalah diatur dengan rukun dan akad yang ada.

Dalam Alquran dan hadis terdapat prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam bermu’amalah, terutama dalam melakukan akad, seperti dalam usaha ekonomi (tijarah) dan hubungan tentang ketatanegaraan atau perubahan antara majikan dan pekerja disuatu pihak dan buruh di pihak lain. Prinsip-prinsip dasar yang dimaksud adalah:

 1. Asas suka sama suka (al-taradi) prinsip ini terdapat dalam Qs. (4): 29. 40Al-taradi adalah kerelaan yang sebenarnya, buka kerelaan yang bersifat semu dan seketika. Kerelaan ini harus diekspresikan dalam berbagai bentuk muamalah yang legal dan dapat dipertanggungjawabkan, baik ketika akad itu berlangsung maupun sesudahnya.

2. Asas keadilan antara lain firman Allah dalam Qs. (57): 25. Keadilan dalam hal ini tidak hanya terletak pada produksi dan cara memperolehnya, akan tetapi juga pada pendistribusian dan penggunaan atau pemanfaatan.

 3. Asas saling menguntungkan dan tidak ada pihak yang dirugikan. Hal ini sesuai dengan Qs. (2) : 278-279. Secara eksplisit, ayat ini berhubungan dengan larangan bermuamalah yang mengandung unsur riba.

4. Asas tolong menolong saling membantu. Diantara ayat Alquran dan hadis yang menekankan keharusan tolong menolong seperti dalam Qs. (5): 2. Berdasarkan ayat ini dapat dipahami bahwa dalam bermuamalah sesama manusia dianjurkan saling membantu dan tidak saling memeras atau mengesploitasi. Ada yang menambahkan satu asas lagi yaitu asas maslahat sesuai dengan Maqosid Syariah.

 

Dapatkan subsidi hingga 100juta: https://pasca.staima-alhikam.ac.id/berita-pendaftaran-mahasiswa-baru.html

 

Kegiatan dan usaha ekonomi yang selama ini tidak sesuai dengan syariah dengan masih melakukan kegiatan ekonomi yang mengandung unsur judi (mashir), Gharar (unsur tidak jelas transaksinya), Riba (bunga), Bathil (jual beli menipu), dan Risywah (suap) selama Ramadan sudah saat ditinggalkan dengan perlahan-lahan sehingga setelah bulan Ramadan sudah terbiasa melakukan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan syariah.

Di sinilah, bulan Ramadan menjadi momentum lahirnya semangat dan kesadaran umat Islam untuk melakukan aktivitas ekonomi sesuai ajaran agamanya: menanggalkan riba (bunga), menjauhi gharar, maysir, tadlis, ihtikar, dan lain sebagainya. Sebab, implikasi puasa tidak saja berdimensi ibadah spiritual, tetapi juga mengajarkan akhlak horizontal (mu’amalah), khususnya dalam bidang bisnis.

Dibulan Ramadahan ini terlihat jelas semua umat Islam menjalankan aktivitasnya dengan adanya pemerataan dimasyarakat, akhirnya akan melahirkan  social distributive justice (keadilan distribusi sosial)  disini kelihatan bahwa penerapan saling berbagi sangat terasa, kususnya pada orang-orang yang kurang mampuh sebab kekayaan yang dimmiliki Umat islam akan dikeluarkan dalam bentuk  zakat, infak, shadaqah, dan wakaf di bulan Ramadan. Dengan demikian ekonomi Islam mampuh memberi Solusi dalam kehidupan masyarakat.

Mari kita jadikan Ramadhan ini untuk meningkatkan spirit muamalah yang sesuai dengan ajaran Islam utuk bulan-bulan yang akan datang agar umat Islam dilingkungan kita sama-sama memiliki kemajuan dalam taqwa.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Darmawati H, AKAD DALAM TRANSAKSI EKONOMI SYARI’AH, Sulesana Volume 12 Nomor 2 Tahun 2018

Tira Nur Fitria , JURNAL ILMIAH EKONOMI ISLAM VOL. 02, NO. 03, NOVEMBER 2016. KONTRIBUSI EKONOMI ISLAM DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI NASIONAL

https://tafsirweb.com/1886-quran-surat-al-maidah-ayat-2.html

http://www.ekonomisyariah.org/id/7592/ramadan-momentum-ekonomisyariah/

 


Tulis Komentar

Tuliskan Komentar anda dari akun Facebook Anda